Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

06 Maret 2026

Wahyu Pertama yang Mengubah Dunia

 

Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad merupakan momen agung yang mengubah arah sejarah manusia. Peristiwa ini menjadi awal diutusnya beliau sebagai Rasul terakhir bagi seluruh umat manusia.

Sebelum diangkat menjadi nabi, Nabi Muhammad merasa gelisah melihat kondisi moral masyarakat Mekkah yang saat itu dipenuhi penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kerusakan akhlak. Kegelisahan itu mendorong beliau untuk lebih banyak menyendiri, merenung, dan berdoa kepada Allah.

Beliau sering melakukan uzlah (mengasingkan diri) di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Dengan membawa bekal sederhana seperti air dan roti gandum, Rasulullah  menghabiskan waktu terutama di bulan Ramadhan untuk beribadah dan bertafakur di tempat tersebut.

Menjelang usia 40 tahun, tanda-tanda kenabian mulai tampak pada diri beliau. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim no. 2277 disebutkan bahwa ada batu di Mekkah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebelum diutus menjadi nabi.

Selain itu, beliau mulai menerima mimpi-mimpi yang benar (ru’ya ash-shadiqah). Mimpi tersebut selalu menjadi kenyataan dengan jelas, seperti terangnya cahaya pagi. Dalam riwayat Sahih Muslim no. 2263 disebutkan bahwa mimpi yang benar merupakan salah satu dari 46 bagian kenabian.

Sebagian ulama berpendapat bahwa wahyu pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah. Ada pula yang menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada hari Senin, 21 Ramadhan, bertepatan dengan 10 Agustus 610 M.

Yang jelas, wahyu pertama turun ketika Rasulullah sedang berkhalwat di Gua Hira pada bulan Ramadhan.

Kisah ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Pada suatu malam di Gua Hira, Malaikat Jibril datang kepada beliau dan berkata:

“Bacalah!”

Nabi Muhammad menjawab,

“Aku tidak bisa membaca.”

Malaikat Jibril lalu memeluk beliau dengan erat hingga beliau merasa sangat kepayahan, kemudian melepaskannya dan kembali berkata:

“Bacalah!”

Jawaban beliau tetap sama,

“Aku tidak bisa membaca.”

Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali. Pada kali ketiga, Malaikat Jibril membacakan ayat pertama dari Al-Qur’an:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَم

Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Ayat-ayat inilah yang menjadi wahyu pertama dan menandai dimulainya risalah Islam.

Dalam kitab Fikih Sirah karya Said Ramadhan Al-Buthy dijelaskan bahwa saat itu Rasulullah  diliputi rasa takut yang sangat mendalam. Pada awalnya, beliau mengira makhluk yang mendatanginya adalah sebangsa jin, karena pengalaman tersebut begitu dahsyat dan belum pernah beliau alami sebelumnya.

Namun, peristiwa agung itulah yang kemudian menjadi awal turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur selama 23 tahun, sebagai petunjuk dan cahaya bagi seluruh umat manusia.