Wahyu Pertama yang Mengubah Dunia
Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada
Nabi Muhammad merupakan momen agung yang mengubah arah sejarah manusia.
Peristiwa ini menjadi awal diutusnya beliau sebagai Rasul terakhir bagi seluruh
umat manusia.
Sebelum diangkat menjadi nabi, Nabi
Muhammad merasa gelisah melihat kondisi moral masyarakat Mekkah yang saat itu
dipenuhi penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kerusakan akhlak. Kegelisahan
itu mendorong beliau untuk lebih banyak menyendiri, merenung, dan berdoa kepada
Allah.
Beliau sering melakukan uzlah
(mengasingkan diri) di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Dengan membawa
bekal sederhana seperti air dan roti gandum, Rasulullah menghabiskan waktu terutama di bulan Ramadhan
untuk beribadah dan bertafakur di tempat tersebut.
Menjelang usia 40 tahun, tanda-tanda
kenabian mulai tampak pada diri beliau. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim no.
2277 disebutkan bahwa ada batu di Mekkah yang pernah mengucapkan salam kepada
beliau sebelum diutus menjadi nabi.
Selain itu, beliau mulai menerima
mimpi-mimpi yang benar (ru’ya ash-shadiqah). Mimpi tersebut selalu menjadi
kenyataan dengan jelas, seperti terangnya cahaya pagi. Dalam riwayat Sahih
Muslim no. 2263 disebutkan bahwa mimpi yang benar merupakan salah satu dari 46
bagian kenabian.
Sebagian ulama berpendapat bahwa wahyu
pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah. Ada pula yang
menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada hari Senin, 21 Ramadhan,
bertepatan dengan 10 Agustus 610 M.
Yang jelas, wahyu pertama turun ketika
Rasulullah sedang berkhalwat di Gua Hira pada bulan Ramadhan.
Kisah ini diriwayatkan oleh Aisyah
radhiyallahu ‘anha dalam hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Sahih
Muslim.
Pada suatu malam di Gua Hira, Malaikat
Jibril datang kepada beliau dan berkata:
“Bacalah!”
Nabi Muhammad menjawab,
“Aku tidak bisa membaca.”
Malaikat Jibril lalu memeluk beliau
dengan erat hingga beliau merasa sangat kepayahan, kemudian melepaskannya dan
kembali berkata:
“Bacalah!”
Jawaban beliau tetap sama,
“Aku tidak bisa membaca.”
Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali.
Pada kali ketiga, Malaikat Jibril membacakan ayat pertama dari Al-Qur’an:
اِقْرَأْ
بِاسْمِ
رَبِّكَ
الَّذِيْ
خَلَقَۚ
خَلَقَ
الْاِنْسَانَ
مِنْ عَلَقٍۚ
اِقْرَأْ
وَرَبُّكَ
الْاَكْرَمُۙ
الَّذِيْ
عَلَّمَ
بِالْقَلَمِۙ
عَلَّمَ
الْاِنْسَانَ
مَا لَمْ
يَعْلَم
Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)
Ayat-ayat inilah yang menjadi wahyu
pertama dan menandai dimulainya risalah Islam.
Dalam kitab Fikih Sirah karya Said
Ramadhan Al-Buthy dijelaskan bahwa saat itu Rasulullah diliputi rasa takut yang sangat mendalam.
Pada awalnya, beliau mengira makhluk yang mendatanginya adalah sebangsa jin,
karena pengalaman tersebut begitu dahsyat dan belum pernah beliau alami
sebelumnya.
Namun, peristiwa agung itulah yang
kemudian menjadi awal turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur selama 23
tahun, sebagai petunjuk dan cahaya bagi seluruh umat manusia.