Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

09 Juni 2026

Kisah Pemuda dengan Dua Ekor Babi

 

Nabi Musa adalah seorang nabi yang diberi keistimewaan dapat berbicara langsung dengan Allah. Karena kedekatan tersebut, beliau kerap mengajukan berbagai pertanyaan yang kemudian dijawab langsung oleh Allah. Dalam sebuah kisah Israiliyat, suatu hari Nabi Musa bertanya, "Ya Allah, siapakah yang akan menjadi tetanggaku di surga kelak?"


Allah memberitahu Nabi Musa nama orang yang dimaksud serta di mana tempat tinggalnya.
Kemudian Nabi Musa bergegas menuju tempat tinggal orang tersebut karena ingin mengetahui seperti apa kehidupan sehari-harinya.


Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya Nabi Musa dapat berjumpa dengan orang itu. Ia dipersilakan duduk di ruang tamu dan diminta menunggu sejenak karena sang pemilik rumah hendak menyelesaikan suatu kewajiban terlebih dahulu. Setelah itu, ia masuk ke dalam sebuah bilik. Tak lama kemudian, ia keluar sambil menggendong seekor babi betina besar. Hewan itu diperlakukannya dengan sangat lembut.

Melihat hal itu, Nabi Musa tidak dapat menyembunyikan rasa herannya.

Babi betina itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu, tubuhnya dilap hingga kering, lalu dipeluk dan dicium dengan penuh kasih sayang sebelum dibawa kembali ke dalam bilik.

Setelah itu, orang tersebut kembali keluar sambil membawa seekor babi jantan. Hewan tersebut diperlakukan dengan cara yang sama. Ia memandikannya, membersihkannya, mengeringkan tubuhnya, lalu memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih sayang sebelum membawanya kembali ke dalam bilik.

Setelah selesai melaksanakan kewajibannya barulah dia menemui Nabi Musa.

"Wahai saudara, mengapa kamu memelihara babi? Agama kita tidak membolehkannya," kata Nabi Musa.


“Tuan! Sebenarnya kedua babi itu adalah ibu-bapak kandungku.
Karena dosa besar yang mereka lakukan, Allah mengubah mereka menjadi babi. Kesalahan mereka adalah urusan mereka sendiri di hadapan Allah. Sebagai anak, aku tetap melaksanakan kewajibanku. Aku berbakti kepada kedua orang tuaku sebagaimana yang tuan lihat tadi. Walaupun Allah mengubah wujud mereka menjadi babi, mereka tetaplah orang tuaku. Karena itu, aku tidak pernah berhenti berusaha berbakti kepada mereka," jelas pemuda itu kepada Nabi Musa.


"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampuni. Aku memohon kepada Allah agar mengembalikan wujud mereka menjadi manusia, tetapi Allah masih belum mengabulkan doaku," tambah pemuda itu lagi.


Saat itu juga Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa pemuda itulah yang kelak akan menjadi tetangganya di surga. Bakti dan kasih sayangnya kepada kedua orang tuanya telah mengangkat derajatnya di sisi Allah. Bahkan, berkat doa dan kesalehannya, kedua orang tuanya yang semula layak mendapat azab akhirnya memperoleh rahmat dan ampunan dari Allah.

 

Catatan: Kisah ini termasuk dalam riwayat Israiliyat yang banyak beredar sebagai cerita hikmah. Kebenaran detail peristiwanya tidak dapat dipastikan sebagaimana riwayat yang sahih. Namun, pesan tentang pentingnya berbakti kepada orang tua sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan birrul walidain sebagai salah satu amal yang paling utama.

 

Baca juga:

1.     Ketika Nabi Musa Berdebat dengan Nabi Adam

2.     Tunjukkan KeadilanMu