Sains Menganggap Mustahil, Al-Quran Mengabadikannya: Kisah Nabi Yunus di Perut Ikan
Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam yang
ditelan ikan besar merupakan salah satu kisah yang paling sering menjadi bahan
diskusi antara sains dan agama. Sebagian orang berusaha mencari penjelasan
ilmiah tentang bagaimana seorang manusia dapat bertahan hidup di dalam perut
ikan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mukjizat tidak perlu dicari
pembenaran ilmiahnya karena berada di luar jangkauan hukum alam yang biasa.
Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus
memandang kisah Nabi Yunus?
Sains dan
Keterbatasannya
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan
modern, manusia hampir tidak mungkin bertahan hidup di dalam perut seekor ikan
atau paus dalam waktu yang lama.
Para ilmuwan menjelaskan beberapa
alasannya:
·
Tidak tersedia oksigen yang cukup untuk bernapas.
·
Lambung hewan laut mengandung asam dan enzim pencernaan yang dapat
merusak jaringan tubuh.
·
Ruang di dalam sistem pencernaan bukanlah lingkungan yang mendukung
kehidupan manusia.
·
Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan manusia dapat hidup
berhari-hari di dalam perut ikan.
Karena itu, jika kisah Nabi Yunus dinilai
semata-mata dengan hukum biologi yang kita kenal saat ini, maka peristiwa
tersebut tampak mustahil. Namun, di sinilah letak persoalannya. Apakah semua
peristiwa harus tunduk pada hukum alam yang dapat dijelaskan sains?
Mukjizat Tidak Sama dengan Fenomena Alam
Biasa
Sains
bekerja dengan mengamati kejadian yang berulang dan dapat diuji. Ketika air
dipanaskan hingga suhu tertentu, air akan mendidih. Ketika benda dijatuhkan,
benda akan jatuh ke bawah karena gravitasi. Semua itu dapat diamati dan diuji
berulang kali.
Mukjizat berbeda.
Mukjizat
adalah peristiwa luar biasa yang terjadi karena kehendak Allah dan tidak
terikat pada kebiasaan alam yang berlaku bagi manusia pada umumnya.
Karena itulah banyak ulama berpendapat
bahwa mengukur mukjizat dengan standar sains sering kali tidak tepat. Jika
suatu peristiwa dapat dijelaskan sepenuhnya oleh hukum alam biasa, maka ia
bukan lagi mukjizat.
Dengan kata lain, tugas sains adalah
menjelaskan bagaimana alam bekerja, bukan membatasi apa yang dapat dilakukan
oleh Sang Pencipta alam.
Ayat yang Sering
Menimbulkan Pertanyaan
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Maka
sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia
akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari mereka dibangkitkan."
(QS. As-Saffat: 143-144)
Ayat ini menarik karena menimbulkan
pertanyaan logis.
Jika Nabi Yunus akan tetap tinggal di
dalam perut ikan sampai hari kebangkitan, bukankah itu berarti ikan tersebut
juga harus tetap ada hingga hari kiamat?
Sebagian orang melihat ayat ini sebagai
isyarat bahwa peristiwa tersebut memang berada sepenuhnya dalam wilayah
mukjizat.
Sebab jika Allah berkehendak menjaga Nabi
Yunus selama beberapa hari di dalam perut ikan, maka menjaga beliau selama
ratusan, ribuan, bahkan hingga hari kebangkitan tentu bukan sesuatu yang sulit
bagi-Nya.
Literal atau
Kiasan?
Para ulama memiliki
beberapa pendekatan dalam memahami ayat tersebut.
Makna Literal
Sebagian
memahami ayat itu sebagaimana bunyinya.
Seandainya Nabi Yunus tidak bertasbih
kepada Allah, maka beliau akan tetap berada di dalam perut ikan sampai hari
kebangkitan.
Dalam pemahaman ini, tidak ada keharusan
untuk menjelaskan bagaimana mekanismenya. Sebab ayat tersebut berbicara tentang
kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh hukum alam.
Makna Retoris
Sebagian
ulama melihat adanya unsur penekanan bahasa yang sangat kuat.
Ungkapan "sampai hari mereka
dibangkitkan" dipahami sebagai cara Al-Qur'an menggambarkan bahwa tanpa
pertolongan Allah, Nabi Yunus tidak akan memiliki jalan keluar dari keadaan
tersebut.
Tujuan utamanya bukan menjelaskan umur
ikan atau kondisi biologis Nabi Yunus, melainkan menegaskan besarnya rahmat
Allah yang menyelamatkannya.
Menariknya, kedua pendekatan ini tidak
harus saling bertentangan. Ayat tersebut dapat dipahami secara literal
sekaligus mengandung pesan retoris yang sangat mendalam.
Fokus Al-Qur'an Bukan pada Jenis Ikannya
Ketika
kisah Nabi Yunus dibahas, banyak orang justru terjebak pada pertanyaan:
·
Ikan apa yang menelannya?
·
Apakah itu paus?
·
Bagaimana beliau bernapas?
·
Berapa lama beliau berada di dalamnya?
Padahal Al-Qur'an tidak menaruh fokus
utama pada hal-hal tersebut. Yang lebih ditonjolkan adalah doa Nabi Yunus
ketika berada dalam kesulitan:
"Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu
minazh-zhaalimiin."
"Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Doa inilah yang menjadi inti pelajaran
dari kisah tersebut.
Pesan Besar di Balik Kisah Nabi Yunus
Kisah Nabi Yunus bukan sekadar cerita
tentang manusia dan ikan besar. Ia adalah kisah tentang seorang hamba yang:
·
mengakui kesalahannya,
·
kembali kepada Allah,
·
memohon ampunan dengan penuh kerendahan hati,
·
lalu memperoleh pertolongan ketika semua jalan tampak tertutup.
Jika perhatian kita hanya tertuju pada
bagaimana Nabi Yunus bisa hidup di dalam perut ikan, bisa jadi kita justru
melewatkan pesan terpenting yang ingin disampaikan Al-Qur'an.
Penutup
Sains memiliki perannya sendiri dalam
membantu manusia memahami alam semesta. Namun, sains juga memiliki batas. Tidak
semua hal dapat diukur dengan laboratorium atau dijelaskan oleh rumus-rumus
fisika.
Kisah Nabi Yunus mengingatkan kita bahwa
ada wilayah yang berada di luar jangkauan nalar dan pengamatan manusia, yaitu
wilayah mukjizat dan kekuasaan Allah.
Karena itu, pertanyaan yang mungkin lebih
penting bukanlah bagaimana Nabi Yunus dapat hidup di dalam perut ikan,
melainkan mengapa Allah mengabadikan kisah tersebut dalam Al-Qur'an.
Jawabannya mungkin terletak pada satu
pelajaran yang sangat sederhana namun mendalam: tidak ada keadaan yang terlalu
gelap, terlalu sempit, atau terlalu mustahil bagi pertolongan Allah, selama
seorang hamba mau kembali kepada-Nya dengan penuh ketulusan.