Anak Sudah Mau Mati Baru Dibawa Kesini..!
Hanya
membaca judulnya saja sudah menusuk hati, membuat dada terasa sesak…
Begitulah kira-kira perasaan seorang ibu—gundah, takut, dan hancur—saat
mendengar ucapan bernada keras dan menghakimi dari sosok yang seharusnya
menjadi tempat berharap. Di saat buah hatinya terbaring lemah, di saat harapan
menjadi satu-satunya pegangan, justru kata-kata itulah yang menghantam lebih
dalam daripada rasa sakit itu sendiri.
Itulah
yang dirasakan oleh ibuku ketika membawa putranya yang sakit di sebuah rumah
sakit swasta yang terdekat dari rumah.
Di
tahun 60-an, belum banyak rumah sakit di Surabaya, ada sekitar 6 rumah sakit
besar yang diantaranya adalah dua rumah
sakit pemerintah yaitu RS Simpang dan RS Dr. Soetomo, sisanya adalah rumah
sakit swasta yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Rumah sakit yang
legendaris adalah RS Simpang, sebagai rumah sakit tertua di Surabaya, dan pada
era 1960-an fungsinya mulai bergeser ke RS Karangmenjangan (RS Dr. Soetomo)
sebelum akhirnya ditutup total, dan pada tahun 1980-an dijadikan Delta Plaza
yang kemudian berubah menjadi Surabaya Plaza. Di salah satu rumah sakit swasta
itu, bapak dan ibu membawa kakakku yang demam tinggi berobat selepas maghrib,
dengan pertimbangan lokasinya lebih dekat dari rumah.
Dokter
berwajah “bule” di rumah sakit itu dengan suara bernada keras dan berdialek
khas orang bule berkata, “Anak sudah mau mati baru dibawa kesini…!” Bapak
dengan keras pula menjawab, “Anak saya ini sakit baru tadi sore, dan segera
saya bawa kemari sehabis maghrib!” Kakakku yang saat itu baru berusia dua atau
tiga tahun segera dilakukan tindakan oleh dokter itu.
Kalau
sekarang ada dokter yang berucap seperti itu, akan banyak pasien dan keluarga
pasien yang akan membawa dokter dan rumah sakit yang menaunginya ke ranah
hukum, karena sudah ada pergeseran nilai
keberadaan rumah sakit yang dulu bersifat sosial sekarang menjadi bersifat
industri padat modal. Relasi pasien–dokter juga ikut bergeser.
Setelah
dibawa berobat ke rumah sakit itu, tidak ada perkembangan yang signifikan,
masih demam, gelisah, dan baru tenang saat digendong.. Ada satu hal yang
memunculkan keheranan ibu. Makan dan minum masih lahap, bahkan cenderung
seperti anak yang rakus, sangat lahap menyantap makanan yang disuapkan. Tetapi
anehnya tidak pernah membuka mata. Makan dan minum dengan mata terpejam. Bapak
yang berpegang teguh pada logika, menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar
karena masih demam sehingga anaknya merasa lebih nyaman jika dengan memejamkan
mata. Tapi bagi seorang ibu yang lebih halus perasaannya, punya anggapan yang
berbeda. Ada “sesuatu” yang mengganggunya,
gangguan dari makhluk tak kasat mata yang ada di kompleks perumahan sekolah yang berada di pusat kota Surabaya. Untuk mengetahui gambaran singkat tentang tempat kami tinggal, dapat diketahui dari kisah “Berkenalan dengan Sesosok Jin Cantik“
Di
suatu pagi, ayahnya ibu-ku (Abah Yai. Baca: “Ketiban Ndaru, Ketiban Pulung”)
bertandang ke rumah sehabis pengajian pagi di masjid. Beliau mendengarkan
cerita ibu tentang kondisi anak laki-lakinya yang sakit selama beberapa
hari dan tidak kunjung sembuh dengan seksama. Abah Yai setuju dengan anggapan ibu tentang adanya makhluk usil yang mengganggu, dan segera pamit untuk
menemui teman beliau mengaji yang memahami tentang hal-hal seperti itu. Dia
seorang keturunan arab.
Abah
Yai kembali dari tempat teman beliau sambil membawa sebutir telur ayam rebus
yang di cangkangnya terdapat guratan aksara-aksara arab, untuk dimakan si kecil
yang sakit. Bapak diberi beberapa doa wirid yang harus dibaca setelah sholat
isya’ selama beberapa hari. Juga menceritakan bahwa si kecil merasa terganggu
dengan tingkah laku “sosok anak kecil” yang sering menarik-narik kakinya untuk diajak bermain.
Tapi karena ada perbedaan alam dan perbedaan energi, mengakibatkan terjadinya
efek yang buruk.
Si
kecil yang biasanya sangat antusias melahap makanan yang diberikan, tetapi
ketika di suapi telur rebus itu dia meronta-ronta menolak untuk disuapi. Tapi
ibu memaksakan untuk menyuapinya sampai satu butir telur rebus itu habis
dimakan. Di malam harinya, setelah sholat isya’ tanpa meninggalkan sajadah,
bapak mulai membaca doa-doa wirid sesuai dengan petunjuk dari Abah Yai. Bapak
melaksanakannya selama tujuh hari di ruang tamu, di dekat pintu.
Di hari
ketujuh saat membaca wirid, bapak merasakan pundak dan kepalanya sangat berat
seperti ada sesuatu yang menekan selama beberapa saat. Kemudian terdengar suara
braaak… seperti ada yang menendang atau menabrak pintu dengan keras sekali.
Suara yang sangat keras hingga mengagetkan bapak. Sepertinya hanya bapak yang
mendengar suara yang sangat keras itu. Tidak ada seorangpun yang terbangun, ibu
masih tertidur lelap di samping anak-anaknya. Kemudian ruangan kembali senyap,
dan kepala serta pundak bapak tidak lagi terasa berat.
Dan
syukur alhamdulillah, si kecil sudah ceria dan sehat kembali keesokan harinya.
Tapi cobaan itu belum selesai. Si kecil yang biasanya lincah berlari kesana
kemari, saat itu hanya bisa terduduk saja. Ibu memintanya berdiri tapi di
jawab, “Aku gak iso ngadek. (Aku tidak bisa berdiri).” Betapa gundahnya
hati ibu. Bapak dan ibu membawanya berobat ke rumah sakit itu kembali, dan di
diagnosa terserang polio.
Allah
memberi cobaan kepada hambanya sesuai dengan kadarnya, tidak melebihi kemampuan
hambanya untuk memikul beban itu. Allah menurunkan penyakit pasti juga
menurunkan penawarnya, memberikan obatnya. Keyakinan itu yang selalu dipegang
dengan teguh oleh bapak dan ibu. Menjalaninya dengan ikhlas dan penuh
kesabaran. Atas kehendak Allah di bukalah jalan itu. Setelah melewati beberapa
bulan, suatu hari ibu menghadiri undangan di kota Krian yang tidak terlampau
jauh dari Surabaya. Di kota itu ada mbah Chasan dan Nyai Tini yang masih saudara
dengan neneknya ibuku.
“Anak
sudah besar kok masih di gendong,” kata Nyai Tini.
Kemudian
ibu menceritakan secara singkat kronologi kejadiannya, mulai kakakku yang masih
kecil diajak bermain di luar pada sore hari oleh mbak yang membantu di rumah sampai menjelang waktu maghrib, kemudian Si kecil terjatuh saat berjalan pulang, hingga sakit demam tinggi, dibawa ke rumah sakit, dan seterusnya.
Nyai
Tini memberi saran dan petunjuk kepada ibu ikhtiar yang bisa dikerjakan, yaitu dengan segenggam daun beluntas ditumbuk sampai halus kemudian ditambahkan sedikit minyak tanah. Campuran daun beluntas dan minyak tanah itu di balurkan di kaki kakakku setiap pagi dan malam saat menjelang tidur. Berminggu-minggu ibu dengan telaten dan penuh kesabaran melakukannya sesuai petunjuk dari Nyai Tini. Dan akhirnya harapan itu terwujud. Kakakku dengan perlahan mampu berdiri, berjalan, dan berlari dengan lincah kembali.
Alhamdulillah.
Allah berkenan mengangkat penyakit kakakku yang waktu itu masih berusia antara
dua sampai tiga tahun.
Pada
akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang sakit dan sembuh, bukan pula semata
tentang logika dan hal-hal yang tak kasat mata. Ini adalah tentang keteguhan
hati—tentang seorang ibu yang tidak berhenti berharap, tentang seorang ayah
yang tidak lelah berikhtiar, dan tentang keyakinan yang tetap menyala di tengah
gelapnya ketidakpastian. Di antara doa, air mata, dan usaha yang tak putus,
terselip satu pelajaran yang tak lekang oleh waktu: bahwa ketika manusia sudah
berada di titik paling rapuh, justru di situlah pertolongan Allah datang dengan
cara yang sering tak terduga. Dan dari situlah, kita belajar—bahwa harapan
tidak pernah benar-benar mati, selama iman masih bernafas di dalam dada.