Teguran Allah kepada Seorang Nabi karena Ujub
Ujub adalah penyakit hati berupa perasaan
kagum, bangga, dan terpesona secara berlebihan terhadap diri sendiri, kelebihan
yang dimiliki, atau amal ibadah yang telah dilakukan. Secara lahiriah, ujub
tampak seperti rasa percaya diri. Namun secara batiniah, ia adalah racun yang
halus—merusak keikhlasan, menggerogoti ketawadhuan, dan perlahan-lahan menyeret
seseorang menuju kesombongan.
Para ulama menjelaskan bahwa ujub bisa
menimpa siapa saja: orang awam, ahli ilmu, bahkan orang yang rajin beribadah.
Ketika seseorang mulai merasa bahwa keberhasilan dan kekuatannya semata-mata
hasil usahanya sendiri, di situlah benih ujub tumbuh. Ia lupa bahwa semua
nikmat adalah pemberian Allah, dan bahwa tanpa pertolongan-Nya, manusia tidak
memiliki daya dan kekuatan sedikit pun.
Ada sebuah kisah yang bersumber dari
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Suhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu
dengan sanad yang shahih. Suhaib menceritakan bahwa suatu ketika ia melihat
Nabi Muhammad membisikkan sesuatu saat beliau sedang shalat. Para sahabat tidak
memahami apa yang beliau ucapkan.
Setelah shalat, Rasulullah menjelaskan bahwa bisikan tersebut berkaitan
dengan kisah seorang Nabi dari Bani Israil.
Nabi tersebut memiliki pasukan—dalam
riwayat lain disebutkan memiliki umat—yang sangat besar jumlahnya, kuat, dan
tangguh. Mereka adalah kaum yang disegani, memiliki kekuatan dan kemampuan
menghadapi musuh. Ketika sang Nabi memandang besarnya jumlah dan kekuatan
kaumnya, ia takjub dengan apa yang Allah anugerahkan kepada mereka.
Namun di tengah kekaguman itu, muncul
perasaan bangga dalam hatinya. Terlintas dalam pikirannya bahwa tidak ada yang
mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang dapat mengalahkan mereka. Di situlah
sifat ujub mulai tumbuh.
Perasaan itu mungkin sangat halus, bahkan
mungkin hanya sekelebat lintasan hati. Namun Allah Maha Mengetahui apa yang
tersembunyi di dalam dada. Ketika hati mulai condong kepada kebanggaan terhadap
diri dan melupakan sumber kekuatan yang hakiki, Allah menegurnya.
Sebagai bentuk teguran, Allah memberikan
pilihan kepada Nabi tersebut:
“Pilihlah
untuk kaummu, apakah mereka akan dikuasai musuh, ditimpa kelaparan, atau
ditimpa kematian.”
Ini adalah ujian yang sangat berat. Sang
Nabi tidak langsung memutuskan. Ia bermusyawarah dengan kaumnya. Mereka
menjawab dengan penuh adab:
“Engkau
adalah Nabiyullah. Engkau yang memutuskan untuk kami.”
Setiap kali menghadapi persoalan besar,
Nabi itu memiliki kebiasaan mulia: ia mendirikan shalat terlebih dahulu sebelum
mengambil keputusan. Ia menyadari bahwa keputusan besar harus disertai dengan
istikharah dan ketundukan kepada Allah.
Dalam doanya, ia memohon agar kaumnya
tidak dikuasai musuh dan tidak pula ditimpa kelaparan. Ia memilih kematian
sebagai jalan yang menurutnya lebih ringan dibandingkan kehinaan dikuasai musuh
atau penderitaan panjang akibat kelaparan.
Allah pun mengabulkan pilihannya. Maka
ditetapkanlah kematian atas mereka, dan dalam riwayat disebutkan tujuh puluh
ribu orang dari umatnya meninggal dunia.
Betapa besar akibat dari satu lintasan
ujub dalam hati.
Setelah menceritakan kisah itu,
Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat tentang bisikan yang mereka lihat
saat beliau shalat. Beliau berkata bahwa yang beliau ucapkan adalah:
“Ya Allah,
dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan, dan tiada daya dan kekuatan
kecuali dengan Allah.”
Doa ini menunjukkan puncak ketawadhuan
seorang Rasul yang paling mulia. Padahal beliau adalah manusia terbaik,
pemimpin para Nabi, dan memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Namun beliau
tetap menegaskan bahwa semua kekuatan bersumber dari Allah semata.
Beliau tidak pernah bergantung pada
jumlah pengikut, kekuatan pasukan, strategi, atau kemampuan pribadi. Semua
disandarkan kepada Allah.
Kisah ini mengandung pelajaran yang
sangat dalam bagi kita:
1.
Ujub bisa muncul pada siapa saja. Bahkan seorang Nabi pun diuji dengan
lintasan hati seperti itu. Apalagi kita yang penuh kekurangan.
2.
Lintasan hati yang tidak dijaga dapat berakibat besar. Allah Maha
Mengetahui isi hati manusia.
3.
Keputusan besar harus didahului dengan shalat dan doa. Mendekat kepada
Allah sebelum mengambil keputusan adalah tanda ketundukan seorang hamba.
4.
Kekuatan sejati hanya dari Allah. Jumlah, harta, jabatan, dan kemampuan
tidak akan berarti tanpa pertolongan-Nya.
Ujub adalah penyakit yang halus, sering
kali tidak disadari. Ia bisa menyusup saat seseorang merasa berhasil, saat
dipuji, atau saat melihat kelebihan diri dibanding orang lain. Jika tidak
segera disadari dan diobati, ia dapat menghapus pahala amal dan menyeret kepada
kesombongan.
Semoga Allah menjaga hati kita dari ujub,
riya’, dan kesombongan. Semoga setiap keberhasilan yang kita raih semakin
menambah rasa syukur dan ketundukan kepada-Nya, bukan malah menumbuhkan
kebanggaan yang melalaikan. Karena pada hakikatnya, tiada daya dan kekuatan
kecuali dengan pertolongan Allah semata.