Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

05 Maret 2026

Teguran Allah kepada Seorang Nabi karena Ujub

 

Ujub adalah penyakit hati berupa perasaan kagum, bangga, dan terpesona secara berlebihan terhadap diri sendiri, kelebihan yang dimiliki, atau amal ibadah yang telah dilakukan. Secara lahiriah, ujub tampak seperti rasa percaya diri. Namun secara batiniah, ia adalah racun yang halus—merusak keikhlasan, menggerogoti ketawadhuan, dan perlahan-lahan menyeret seseorang menuju kesombongan.

Para ulama menjelaskan bahwa ujub bisa menimpa siapa saja: orang awam, ahli ilmu, bahkan orang yang rajin beribadah. Ketika seseorang mulai merasa bahwa keberhasilan dan kekuatannya semata-mata hasil usahanya sendiri, di situlah benih ujub tumbuh. Ia lupa bahwa semua nikmat adalah pemberian Allah, dan bahwa tanpa pertolongan-Nya, manusia tidak memiliki daya dan kekuatan sedikit pun.

Ada sebuah kisah yang bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Suhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih. Suhaib menceritakan bahwa suatu ketika ia melihat Nabi Muhammad membisikkan sesuatu saat beliau sedang shalat. Para sahabat tidak memahami apa yang beliau ucapkan.

Setelah shalat, Rasulullah  menjelaskan bahwa bisikan tersebut berkaitan dengan kisah seorang Nabi dari Bani Israil.

Nabi tersebut memiliki pasukan—dalam riwayat lain disebutkan memiliki umat—yang sangat besar jumlahnya, kuat, dan tangguh. Mereka adalah kaum yang disegani, memiliki kekuatan dan kemampuan menghadapi musuh. Ketika sang Nabi memandang besarnya jumlah dan kekuatan kaumnya, ia takjub dengan apa yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Namun di tengah kekaguman itu, muncul perasaan bangga dalam hatinya. Terlintas dalam pikirannya bahwa tidak ada yang mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang dapat mengalahkan mereka. Di situlah sifat ujub mulai tumbuh.

Perasaan itu mungkin sangat halus, bahkan mungkin hanya sekelebat lintasan hati. Namun Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada. Ketika hati mulai condong kepada kebanggaan terhadap diri dan melupakan sumber kekuatan yang hakiki, Allah menegurnya.

Sebagai bentuk teguran, Allah memberikan pilihan kepada Nabi tersebut:

“Pilihlah untuk kaummu, apakah mereka akan dikuasai musuh, ditimpa kelaparan, atau ditimpa kematian.”

Ini adalah ujian yang sangat berat. Sang Nabi tidak langsung memutuskan. Ia bermusyawarah dengan kaumnya. Mereka menjawab dengan penuh adab:

“Engkau adalah Nabiyullah. Engkau yang memutuskan untuk kami.”

Setiap kali menghadapi persoalan besar, Nabi itu memiliki kebiasaan mulia: ia mendirikan shalat terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Ia menyadari bahwa keputusan besar harus disertai dengan istikharah dan ketundukan kepada Allah.

Dalam doanya, ia memohon agar kaumnya tidak dikuasai musuh dan tidak pula ditimpa kelaparan. Ia memilih kematian sebagai jalan yang menurutnya lebih ringan dibandingkan kehinaan dikuasai musuh atau penderitaan panjang akibat kelaparan.

Allah pun mengabulkan pilihannya. Maka ditetapkanlah kematian atas mereka, dan dalam riwayat disebutkan tujuh puluh ribu orang dari umatnya meninggal dunia.

Betapa besar akibat dari satu lintasan ujub dalam hati.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat tentang bisikan yang mereka lihat saat beliau shalat. Beliau berkata bahwa yang beliau ucapkan adalah:

“Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

Doa ini menunjukkan puncak ketawadhuan seorang Rasul yang paling mulia. Padahal beliau adalah manusia terbaik, pemimpin para Nabi, dan memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Namun beliau tetap menegaskan bahwa semua kekuatan bersumber dari Allah semata.

Beliau tidak pernah bergantung pada jumlah pengikut, kekuatan pasukan, strategi, atau kemampuan pribadi. Semua disandarkan kepada Allah.

Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat dalam bagi kita:

1.     Ujub bisa muncul pada siapa saja. Bahkan seorang Nabi pun diuji dengan lintasan hati seperti itu. Apalagi kita yang penuh kekurangan.

2.     Lintasan hati yang tidak dijaga dapat berakibat besar. Allah Maha Mengetahui isi hati manusia.

3.     Keputusan besar harus didahului dengan shalat dan doa. Mendekat kepada Allah sebelum mengambil keputusan adalah tanda ketundukan seorang hamba.

4.     Kekuatan sejati hanya dari Allah. Jumlah, harta, jabatan, dan kemampuan tidak akan berarti tanpa pertolongan-Nya.

Ujub adalah penyakit yang halus, sering kali tidak disadari. Ia bisa menyusup saat seseorang merasa berhasil, saat dipuji, atau saat melihat kelebihan diri dibanding orang lain. Jika tidak segera disadari dan diobati, ia dapat menghapus pahala amal dan menyeret kepada kesombongan.

Semoga Allah menjaga hati kita dari ujub, riya’, dan kesombongan. Semoga setiap keberhasilan yang kita raih semakin menambah rasa syukur dan ketundukan kepada-Nya, bukan malah menumbuhkan kebanggaan yang melalaikan. Karena pada hakikatnya, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata.