Pelajaran Besar tentang Keadilan dan Kasih Sayang terhadap Alam
Islam adalah agama yang mengajarkan
keseimbangan dan kasih sayang, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada
seluruh makhluk ciptaan Allah. Merusak alam, menyakiti hewan tanpa alasan yang
dibenarkan, atau bertindak melampaui batas adalah perbuatan yang dilarang.
Bahkan, dalam ajaran Islam disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak, seorang
hamba bisa dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya terhadap seekor burung
kecil yang dibunuh tanpa alasan yang benar.
Menariknya, peringatan dan teguran Allah
tidak hanya ditujukan kepada manusia biasa. Para nabi pun, sebagai hamba
pilihan Allah, tetap mendapatkan teguran jika melakukan sesuatu yang tidak
sesuai dengan keadilan dan hikmah Ilahi.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan
terdapat dalam Shahih karya Imam Bukhari serta Shahih karya Imam Muslim,
dikisahkan bahwa seorang nabi dari kalangan Bani Israil sedang melakukan
perjalanan jauh. Dalam keadaan lelah, ia singgah dan beristirahat di bawah sebuah
pohon. Saat ia berteduh, datang seekor semut yang kemudian menggigitnya.
Sebagaimana lazimnya, semut menggigit ketika merasa terganggu atau terancam.
Sebagai manusia, nabi tersebut pun
merasakan marah. Ia memerintahkan agar barang-barangnya dipindahkan dari bawah
pohon itu. Setelah itu, ia memerintahkan untuk membakar sarang semut yang ada
di sana. Api pun dinyalakan, dan seluruh koloni semut terbakar hingga mati.
Dalam riwayat Shahih Bukhari disebutkan
bahwa Allah menegur nabi tersebut:
“Mengapa
tidak satu ekor saja?”
Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan
teguran Allah yang lebih menyentuh:
“Hanya
karena kamu digigit oleh seekor semut, lalu kamu membinasakan satu umat yang
bertasbih?”
Teguran ini menunjukkan betapa besar
perhatian Allah terhadap makhluk-Nya, sekecil apa pun mereka.
Kisah ini mengajarkan prinsip keadilan
yang sangat mendasar, yaitu: yang tidak bersalah tidak boleh dihukum karena
kesalahan pihak lain.
Semut yang menggigit hanyalah satu ekor.
Namun, yang dibinasakan adalah seluruh koloni. Tindakan tersebut melampaui
batas keadilan. Islam tidak membenarkan penghukuman kolektif atas kesalahan
individu.
Ini adalah pelajaran penting, bukan hanya
dalam konteks memperlakukan hewan, tetapi juga dalam kehidupan sosial manusia.
Dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam kebijakan dan kepemimpinan, jangan
sampai kemarahan terhadap satu kesalahan berujung pada kezaliman terhadap
banyak pihak yang tidak bersalah.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan tidak
ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak
mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44)
“Dan
tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. Al-An’am:
38)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa hewan
bukan sekadar objek yang boleh diperlakukan semena-mena. Mereka adalah makhluk
hidup yang memiliki sistem kehidupan, komunitas, dan cara masing-masing dalam
memuji Allah.
Semut yang kecil pun adalah “umat” —
memiliki struktur sosial, aturan, dan peran di dalam koloninya. Dalam
perspektif tauhid, seluruh makhluk berada dalam satu jaringan ibadah kepada
Allah.
Kisah ini juga relevan dengan isu
lingkungan modern. Kerusakan ekosistem sering kali terjadi karena tindakan
manusia yang berlebihan: membakar hutan, merusak habitat, membunuh spesies
secara masal, atau mengeksploitasi alam tanpa batas.
Padahal, Islam sejak awal telah
mengajarkan prinsip:
·
Tidak melampaui batas
·
Tidak merusak tanpa alasan yang dibenarkan
·
Tidak menghukum secara kolektif
·
Menjaga keseimbangan (mizan)
Jika terhadap seekor semut saja Allah
memberikan teguran, maka bagaimana dengan perusakan lingkungan dalam skala
besar?
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa
nabi bisa ditegur? Justru di situlah letak keindahan ajaran Islam. Para nabi
adalah manusia yang mendapat wahyu dan bimbingan langsung dari Allah. Teguran
tersebut bukanlah celaan, melainkan bentuk pendidikan dan penyempurnaan.
Kisah teguran Allah kepada seorang nabi
karena membakar koloni semut adalah pelajaran besar tentang keadilan, kasih
sayang, dan tanggung jawab terhadap makhluk lain. Ia mengingatkan kita bahwa
Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama yang menjunjung tinggi etika
terhadap alam dan seluruh isinya.