Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

04 Maret 2026

Pelajaran Besar tentang Keadilan dan Kasih Sayang terhadap Alam

 

Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan dan kasih sayang, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk ciptaan Allah. Merusak alam, menyakiti hewan tanpa alasan yang dibenarkan, atau bertindak melampaui batas adalah perbuatan yang dilarang. Bahkan, dalam ajaran Islam disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak, seorang hamba bisa dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya terhadap seekor burung kecil yang dibunuh tanpa alasan yang benar.

Menariknya, peringatan dan teguran Allah tidak hanya ditujukan kepada manusia biasa. Para nabi pun, sebagai hamba pilihan Allah, tetap mendapatkan teguran jika melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadilan dan hikmah Ilahi.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan terdapat dalam Shahih karya Imam Bukhari serta Shahih karya Imam Muslim, dikisahkan bahwa seorang nabi dari kalangan Bani Israil sedang melakukan perjalanan jauh. Dalam keadaan lelah, ia singgah dan beristirahat di bawah sebuah pohon. Saat ia berteduh, datang seekor semut yang kemudian menggigitnya. Sebagaimana lazimnya, semut menggigit ketika merasa terganggu atau terancam.

Sebagai manusia, nabi tersebut pun merasakan marah. Ia memerintahkan agar barang-barangnya dipindahkan dari bawah pohon itu. Setelah itu, ia memerintahkan untuk membakar sarang semut yang ada di sana. Api pun dinyalakan, dan seluruh koloni semut terbakar hingga mati.

Dalam riwayat Shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah menegur nabi tersebut:

“Mengapa tidak satu ekor saja?”

Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan teguran Allah yang lebih menyentuh:

“Hanya karena kamu digigit oleh seekor semut, lalu kamu membinasakan satu umat yang bertasbih?”

Teguran ini menunjukkan betapa besar perhatian Allah terhadap makhluk-Nya, sekecil apa pun mereka.

Kisah ini mengajarkan prinsip keadilan yang sangat mendasar, yaitu: yang tidak bersalah tidak boleh dihukum karena kesalahan pihak lain.

Semut yang menggigit hanyalah satu ekor. Namun, yang dibinasakan adalah seluruh koloni. Tindakan tersebut melampaui batas keadilan. Islam tidak membenarkan penghukuman kolektif atas kesalahan individu.

Ini adalah pelajaran penting, bukan hanya dalam konteks memperlakukan hewan, tetapi juga dalam kehidupan sosial manusia. Dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam kebijakan dan kepemimpinan, jangan sampai kemarahan terhadap satu kesalahan berujung pada kezaliman terhadap banyak pihak yang tidak bersalah.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44)

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. Al-An’am: 38)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa hewan bukan sekadar objek yang boleh diperlakukan semena-mena. Mereka adalah makhluk hidup yang memiliki sistem kehidupan, komunitas, dan cara masing-masing dalam memuji Allah.

Semut yang kecil pun adalah “umat” — memiliki struktur sosial, aturan, dan peran di dalam koloninya. Dalam perspektif tauhid, seluruh makhluk berada dalam satu jaringan ibadah kepada Allah.

Kisah ini juga relevan dengan isu lingkungan modern. Kerusakan ekosistem sering kali terjadi karena tindakan manusia yang berlebihan: membakar hutan, merusak habitat, membunuh spesies secara masal, atau mengeksploitasi alam tanpa batas.

Padahal, Islam sejak awal telah mengajarkan prinsip:

·  Tidak melampaui batas

·  Tidak merusak tanpa alasan yang dibenarkan

·  Tidak menghukum secara kolektif

·  Menjaga keseimbangan (mizan)

Jika terhadap seekor semut saja Allah memberikan teguran, maka bagaimana dengan perusakan lingkungan dalam skala besar?

Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa nabi bisa ditegur? Justru di situlah letak keindahan ajaran Islam. Para nabi adalah manusia yang mendapat wahyu dan bimbingan langsung dari Allah. Teguran tersebut bukanlah celaan, melainkan bentuk pendidikan dan penyempurnaan.

Kisah teguran Allah kepada seorang nabi karena membakar koloni semut adalah pelajaran besar tentang keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap makhluk lain. Ia mengingatkan kita bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama yang menjunjung tinggi etika terhadap alam dan seluruh isinya.