Rahasia Rezeki Nelayan Muslim dan Nelayan Majusi
Banyak orang sering bertanya-tanya,
mengapa ada orang yang tidak beriman tetapi hidupnya tampak mudah dan penuh
rezeki, sementara orang yang beriman justru hidup sederhana bahkan terkadang
serba kekurangan?
Pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah
ada sejak zaman para nabi. Sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik
menceritakan bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan langsung peristiwa yang
membuatnya bertanya kepada Allah tentang rahasia pembagian rezeki.
Kisah ini memberikan pelajaran yang
sangat dalam tentang kesabaran, keadilan Allah, dan tujuan hidup yang
sebenarnya.
Suatu hari, Nabi Musa berada di tepi
laut. Beliau memperhatikan para nelayan yang sedang bekerja mencari ikan.
Di antara mereka ada seorang nelayan
majusi, yaitu orang yang menyembah selain Allah. Nelayan itu melemparkan
jaringnya ke laut.
Sekali lempar, ia mendapatkan ikan. Ia
melempar lagi. Ikan kembali terperangkap.
Begitu terus terjadi. Setiap kali ia
menebar jaring, selalu saja ada ikan yang masuk ke dalamnya. Hingga akhirnya perahunya
penuh dengan hasil tangkapan. Dengan wajah puas, ia pun pulang membawa
banyak ikan.
Tidak lama kemudian datang seorang nelayan
muslim yang sudah tua. Tubuhnya tampak lemah. Ia menyiapkan jaringnya lalu
melemparkannya ke laut.
Namun berbeda dengan nelayan sebelumnya.
Sekali melempar jaring — tidak ada ikan. Ia mencoba lagi. Masih kosong.
Beberapa kali ia mencoba, tetapi jaringnya tetap tidak menghasilkan apa-apa.
Akhirnya, dengan penuh harap ia
melemparkan jaringnya sekali lagi sambil berdoa, "Ya Allah, ini untuk
keluargaku dan kebutuhan kami."
Beberapa saat kemudian, ketika ia menarik
jaringnya, ada beberapa ekor ikan yang tersangkut.
Tidak banyak. Namun cukup untuk dibawa
pulang.
Dengan wajah penuh syukur, nelayan tua
itu berkata, "Alhamdulillah. Ini sudah cukup untuk kebutuhan keluargaku
malam ini."
Ia pun pulang dengan hati tenang.
Melihat kejadian itu, Nabi Musa merasa
heran. Beliau pun berkata kepada Allah,
“Ya
Tuhanku, hamba-Mu yang datang kepada-Mu dengan menyekutukan dan kufur
kepada-Mu, Engkau mudahkan rezekinya dan Engkau lapangkan kehidupannya.
Sedangkan hamba-Mu yang beriman kepada-Mu, yang ridha kepada-Mu, Engkau
sempitkan rezekinya.”
Nabi Musa bertanya karena melihat perbedaan
yang sangat mencolok antara keduanya.
Mengapa orang yang tidak beriman
mendapatkan kemudahan, sementara orang yang beriman justru hidup terbatas?
Allah kemudian menjawab Nabi Musa, "Wahai
Musa, Aku memiliki dua negeri. Lihatlah keduanya."
Lalu Allah memperlihatkan sebuah
negeri yang penuh kenikmatan, yaitu Surga.
Allah berfirman,
"Ini adalah
negeri yang Aku sediakan untuk para kekasih-Ku, untuk orang-orang yang taat
kepada-Ku dan orang-orang yang bersabar."
Kemudian Allah memperlihatkan negeri yang
lain, yaitu Neraka Jahannam.
Ketika neraka itu ditampakkan, hembusan
panasnya begitu dahsyat hingga Nabi Musa berlindung kepada Allah dari
siksaannya.
Allah kemudian menjelaskan kepada Nabi
Musa,
"Wahai Musa, apa yang merugikan
hamba-Ku yang beriman selama beberapa hari kehidupan dunia ini jika Aku
menyempitkan rezekinya, lalu ia bersabar dan ridha kepada-Ku?
Jika ia datang kepada-Ku dalam keadaan
Aku meridhainya, maka Aku akan menempatkannya di negeri-Ku yang itu (Surga).
Semua kesulitan yang ia alami di dunia tidak akan merugikannya."
Sebaliknya Allah berfirman,
"Adapun
hamba-Ku yang menyekutukan-Ku, yang menikmati rezeki-Ku di bumi-Ku namun
menyembah selain Aku, maka Aku akan menempatkannya di negeri yang lain
(Neraka). Semua kenikmatan dunia yang ia rasakan tidak akan berguna baginya."
Allah kemudian berkata kepada Nabi Musa, "Arahkanlah
wajahmu, wahai Musa."
Ketika Nabi Musa melihat kembali, Allah
menjelaskan sebuah rahasia besar kehidupan. Surga dikelilingi oleh hal-hal
yang tidak disukai manusia—kesabaran, perjuangan, ketaatan, dan
pengorbanan. Sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai manusia—kenikmatan
tanpa batas, hawa nafsu, dan kesenangan sesaat.
Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa
berkata, "Demi kemuliaan-Mu, wahai Tuhan, mereka pasti akan
memasukinya."
Kisah nelayan muslim dan nelayan majusi
ini mengingatkan kita bahwa keadilan Allah tidak selalu terlihat di dunia.
Ada orang yang hidup sederhana tetapi
dicintai Allah. Ada pula yang hidup bergelimang harta tetapi justru sedang
diuji dengan kenikmatan.
Karena itu, ketika melihat kehidupan
orang lain yang tampak lebih mudah, jangan terburu-buru merasa iri. Bisa jadi
Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar bagi orang-orang
yang bersabar. Sebab pada akhirnya, yang menentukan bukanlah berapa banyak
rezeki yang kita dapatkan di dunia, tetapi di mana kita akan tinggal
selamanya.