Matahari Terbit dari Barat: Tinjauan Hadis, Penjelasan Ulama, dan Perspektif Sains Modern
Salah satu
tanda besar kiamat yang paling dikenal dalam Islam adalah terbitnya matahari
dari arah barat. Peristiwa ini disebutkan secara tegas dalam hadis sahih
Nabi Muhammad.
“Tidak akan terjadi kiamat
hingga matahari terbit dari barat. Ketika ia terbit dari barat dan manusia
melihatnya, maka seluruh manusia beriman, tetapi pada saat itu iman seseorang
tidak lagi bermanfaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam akidah Islam, peristiwa ini
dipahami sebagai kejadian luar biasa (ayat kubra) yang menandai fase akhir
kehidupan dunia. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa matahari
benar-benar terbit dari arah barat. Bukan bermakna kiasan, terjadi
secara nyata dan global.
Imam An-Nawawi menjelaskan, “Terbitnya
matahari dari barat adalah perubahan besar pada tatanan alam semesta, dan itu
adalah tanda ditutupnya pintu tobat.” Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan dalam
Fathul Bari, bahwa peristiwa ini terjadi setelah munculnya Dajjal dan
turunnya Nabi Isa, yang menandai fase akhir kehidupan dunia, dan bukan kejadian
alam biasa.
Pertanyaan yang sering muncul di era
modern adalah apakah peristiwa ini (matahari terbit dari barat) secara sains
khususnya astronomi dan fisika mungkin/dapat terjadi? Atau apakah ia murni
peristiwa supranatural di luar hukum alam?
Bagaimana Matahari Bisa Terbit dari
Barat?
Secara fakta bumi berotasi dari barat ke
timur yang menakibatkan matahari tampak terbit dari timur. Agar matahari terbit
dari barat, maka rotasi Bumi berhenti lalu berbalik arah, atau sumbu rotasi
bumi berubah secara ekstrem. Untuk membalikkan arah rotasi bumi, diperlukan
energi kosmik yang sangat besar, misalkan terjadinya tabrakan antar planet.
Konsekuensi ilmiah
jika rotasi bumi berbalik arah adalah seluruh samudra akan menyapu daratan,
gempa secara global, atmosfer rusak parah, dan kehidupan hampir pasti musnah.
Yang dapat disimpulkan secara sains bahwa peristiwa perubahan arah
rotasi bumi tidak mungkin terjadi secara normal tanpa kehancuran total dunia.
Apakah pembalikan
medan magnet bumi akan menyebabkan perubahan rotasi bumi?
Medan
magnet Bumi melindungi bumi dari radiasi kosmik dan badai matahari. Penelitian
geofisika selama lebih dari satu abad telah menunjukkan bahwa medan magnet Bumi
tidak selalu stabil, melainkan pernah mengalami pembalikan polaritas
berkali-kali sepanjang sejarah geologi. Medan magnet Bumi dihasilkan oleh
pergerakan logam cair konduktif (besi dan nikel) di inti luar Bumi, melalui
mekanisme yang dikenal sebagai geodynamo. Medan ini memiliki dua kutub utama:
utara dan selatan magnetik.
Temuan
Paleomagnetik —studi tentang jejak medan magnet purba yang tersimpan dalam
batuan— di berbagai benua ditemukan sebagian batuan menunjukkan orientasi
magnet yang searah dengan medan magnet bumi saat ini, dan sebagian
lainnya menunjukkan orientasi yang berlawanan arah yang ditemukan pada
batuan yang berusia berbeda-beda.
Bukti lain yang juga menunjukkan bahwa
medan magnet bumi telah berulang kali berubah arah adalah pada penelitian dasar
samudra pada pertengahan abad ke-20. Di sepanjang mid-ocean ridge,
ditemukan pola garis-garis magnetik sejajar yang tersusun simetris di kedua
sisi mid-ocean ridge dengan pola yang bergantian antara magnetisasi
normal dan terbalik yang dikenal dengan fenomena magnetic striping.
Rekaman kronologis pembalikan medan magnet yang tersimpan rapi di dasar laut
merupakan pola yang mustahil terbentuk tanpa adanya pembalikan medan magnet
global.
Untuk memastikan keabsahan temuan
tersebut, ilmuwan menggunakan metode penanggalan radiometrik (seperti
kalium–argon dan argon–argon) untuk menentukan usia batuan. Hasilnya
menunjukkan bahwa waktu pembalikan medan magnet dapat ditentukan secara akurat,
yang kemudian disusun Geomagnetic Polarity Time Scale (GPTS), yaitu
kronologi resmi pembalikan medan magnet Bumi.
Dari data GPTS diketahui bahwa pembalikan
medan magnet terjadi ratusan kali dalam 160 juta tahun terakhir. Pembalikan
terakhir terjadi sekitar 780.000 tahun lalu, yang membuktikan bahwa pembalikan
medan magnet adalah fenomena alamiah, bukan kejadian langka atau anomali.
Dari temuan–temuan
sains modern tersebut, menunjukkan bahwa pembalikan medan magnet bumi yang terjadi berkali-kali sepanjang sejarah bumi adalah fakta
ilmiah, dan klaim pembalikan medan magnet bumi akan menyebabkan perubahan
rotasi bumi yang dapat menyebabkan matahari terbit dari barat adalah tidak
tepat, karena tidak memiliki dasar ilmiah.
Secara
Sains, terjadinya matahari terbit dari barat tidak mungkin terjadi secara
alamiah dan bertahap, dan hanya dapat terjadi ketika adanya peristiwa besar dan
dahsyat, peristiwa luar biasa yang mengakibatkan kehahncuran bumi, yang
menunjukkan kebenaran hadis nabi Muhummad yang mengaitkan terjadinya kiamat
ketika matahari terbit dari barat.
Terbitnya matahari dari barat bukanlah
fenomena astronomi biasa, melainkan tanda berakhirnya kehidupan dunia.
Sains modern, alih-alih membantah hadis Nabi, justru menunjukkan bahwa
peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi tanpa runtuhnya tatanan alam, selaras
dengan konsep kiamat dalam Islam.