Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

14 Februari 2026

Matahari Terbit dari Barat: Tinjauan Hadis, Penjelasan Ulama, dan Perspektif Sains Modern

 

Salah satu tanda besar kiamat yang paling dikenal dalam Islam adalah terbitnya matahari dari arah barat. Peristiwa ini disebutkan secara tegas dalam hadis sahih Nabi Muhammad.

“Tidak akan terjadi kiamat hingga matahari terbit dari barat. Ketika ia terbit dari barat dan manusia melihatnya, maka seluruh manusia beriman, tetapi pada saat itu iman seseorang tidak lagi bermanfaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam akidah Islam, peristiwa ini dipahami sebagai kejadian luar biasa (ayat kubra) yang menandai fase akhir kehidupan dunia. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa matahari benar-benar terbit dari arah barat. Bukan bermakna kiasan, terjadi secara nyata dan global.

Imam An-Nawawi menjelaskan, “Terbitnya matahari dari barat adalah perubahan besar pada tatanan alam semesta, dan itu adalah tanda ditutupnya pintu tobat.” Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari, bahwa peristiwa ini terjadi setelah munculnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa, yang menandai fase akhir kehidupan dunia, dan bukan kejadian alam biasa.

Pertanyaan yang sering muncul di era modern adalah apakah peristiwa ini (matahari terbit dari barat) secara sains khususnya astronomi dan fisika mungkin/dapat terjadi? Atau apakah ia murni peristiwa supranatural di luar hukum alam?

Bagaimana Matahari Bisa Terbit dari Barat?

Secara fakta bumi berotasi dari barat ke timur yang menakibatkan matahari tampak terbit dari timur. Agar matahari terbit dari barat, maka rotasi Bumi berhenti lalu berbalik arah, atau sumbu rotasi bumi berubah secara ekstrem. Untuk membalikkan arah rotasi bumi, diperlukan energi kosmik yang sangat besar, misalkan terjadinya tabrakan antar planet.

Konsekuensi ilmiah jika rotasi bumi berbalik arah adalah seluruh samudra akan menyapu daratan, gempa secara global, atmosfer rusak parah, dan kehidupan hampir pasti musnah. Yang dapat disimpulkan secara sains bahwa peristiwa perubahan arah rotasi bumi tidak mungkin terjadi secara normal tanpa kehancuran total dunia.

Apakah pembalikan medan magnet bumi akan menyebabkan perubahan rotasi bumi?

Medan magnet Bumi melindungi bumi dari radiasi kosmik dan badai matahari. Penelitian geofisika selama lebih dari satu abad telah menunjukkan bahwa medan magnet Bumi tidak selalu stabil, melainkan pernah mengalami pembalikan polaritas berkali-kali sepanjang sejarah geologi. Medan magnet Bumi dihasilkan oleh pergerakan logam cair konduktif (besi dan nikel) di inti luar Bumi, melalui mekanisme yang dikenal sebagai geodynamo. Medan ini memiliki dua kutub utama: utara dan selatan magnetik.

Temuan Paleomagnetik —studi tentang jejak medan magnet purba yang tersimpan dalam batuan— di berbagai benua ditemukan sebagian batuan menunjukkan orientasi magnet yang searah dengan medan magnet bumi saat ini, dan sebagian lainnya menunjukkan orientasi yang berlawanan arah yang ditemukan pada batuan yang berusia berbeda-beda.

Bukti lain yang juga menunjukkan bahwa medan magnet bumi telah berulang kali berubah arah adalah pada penelitian dasar samudra pada pertengahan abad ke-20. Di sepanjang mid-ocean ridge, ditemukan pola garis-garis magnetik sejajar yang tersusun simetris di kedua sisi mid-ocean ridge dengan pola yang bergantian antara magnetisasi normal dan terbalik yang dikenal dengan fenomena magnetic striping. Rekaman kronologis pembalikan medan magnet yang tersimpan rapi di dasar laut merupakan pola yang mustahil terbentuk tanpa adanya pembalikan medan magnet global.

Untuk memastikan keabsahan temuan tersebut, ilmuwan menggunakan metode penanggalan radiometrik (seperti kalium–argon dan argon–argon) untuk menentukan usia batuan. Hasilnya menunjukkan bahwa waktu pembalikan medan magnet dapat ditentukan secara akurat, yang kemudian disusun Geomagnetic Polarity Time Scale (GPTS), yaitu kronologi resmi pembalikan medan magnet Bumi.

Dari data GPTS diketahui bahwa pembalikan medan magnet terjadi ratusan kali dalam 160 juta tahun terakhir. Pembalikan terakhir terjadi sekitar 780.000 tahun lalu, yang membuktikan bahwa pembalikan medan magnet adalah fenomena alamiah, bukan kejadian langka atau anomali.

Dari temuan–temuan sains modern tersebut, menunjukkan bahwa pembalikan medan magnet bumi yang terjadi berkali-kali sepanjang sejarah bumi adalah fakta ilmiah, dan klaim pembalikan medan magnet bumi akan menyebabkan perubahan rotasi bumi yang dapat menyebabkan matahari terbit dari barat adalah tidak tepat, karena tidak memiliki dasar ilmiah.

Secara Sains, terjadinya matahari terbit dari barat tidak mungkin terjadi secara alamiah dan bertahap, dan hanya dapat terjadi ketika adanya peristiwa besar dan dahsyat, peristiwa luar biasa yang mengakibatkan kehahncuran bumi, yang menunjukkan kebenaran hadis nabi Muhummad yang mengaitkan terjadinya kiamat ketika matahari terbit dari barat.

Terbitnya matahari dari barat bukanlah fenomena astronomi biasa, melainkan tanda berakhirnya kehidupan dunia. Sains modern, alih-alih membantah hadis Nabi, justru menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi tanpa runtuhnya tatanan alam, selaras dengan konsep kiamat dalam Islam.